Get Adobe Flash player

Archive for the ‘my Lecture’ Category

postheadericon Maaf… Sudah Lama Nggak Posting -_-”

I’m sorry readers…i haven’t posted since months ago (long time, huh?)

Beberapa bulan belakangan aku disibukkan oleh kegiatan kuliah, urusan kerja praktek, cari ijin untuk skripsi, cari-cari dosen…wuaahh…banyak lah pokoknya, jadi lupa deh sama web tercinta ^^

Jadi, setelah lama nggak menyapa pembaca dunia maya, kali ini aku mau cerita tentang kegiatanku 6 bulan belakangan ini. Nggak penting kan ya kedengarannya? Hhaa…Tapi aku tetep mau share :P

Masih ingat artikel terakhirku kan (cek FINAL PROJECT MIKROKONTROLER: BREATH ALCOHOL TESTER) ?? Nah tidak berapa lama setelah itu aku dan temanku mengajukan proposal Kerja Praktek ke PT. Chevron Pasific Indonesia yang berada di Riau. Lalu bulan Februari kita mengajukan proposal lagi untuk KP ke perusahaan lain untuk bulan Maret, yaitu PT. Krakatau Steel. Niatnya sih buat cadangan, kalau-kalau permohonan KP di Chevron nggak diluluskan. Tapi niat ‘cadangan’ ini nekat banget…hahaha…seharusnya kan proposal KP diajukan min 3 bulan sebelum hari-H, lha tapi berhubung kita-kita ini orangnya demen cengengesan & nekat-an, yo wis lah maju wae sing penting nekat #apadeh

Selang beberapa hari (nggak sampai 2 minggu) kita dihubungi pihak KS (Krakatau Steel), dan kita dinyatakan diterima menjadi mahasiswa KP di sana. Tapi eh tapi, karena waktu yang kita ajukan terlalu mepet, kita ditawari untuk bulan Mei. Lha padahal Mei itu kan jatah KP di Chevron (itupun kalau diterima…tapi kan prepare lebih baik, jaga-jaga lah). Akhirnya kita sepakat untuk meminta waktu KP lain (mundur gitu ceritanya) dan kemudian kita diberi tahu kalau waktu KP setelah bulan Mei itu adalah September. Nah karena kita sama-sama nggak ada halangan, ya jadi lah tawaran itu diterima (dari modal nekat). Yang aku heran, karena waktu pengajuan yang mepet, kenapa nggak ditolak aja sekalian? Kan pasti yang mengajukan proposal nggak cuma timku aja? @.@

Setelah masa UTS (Ujian Tengah Semester) berlalu, kira-kira 1 minggu (eh lebih lah 1 minggu) sebelum hari-H, aku menerima surat panggilan KP di Chevron (wiiiwwww…), langsung ditelpon sama pegawai TU, dikasih kabar kalau ada surat panggilan. Nah ini juga masih menjadi misteri, mbaknya dapet no hp-ku dari mana ya? @.@

Singkat cerita, aku (dan temanku) resmi menjalani KP mulai tanggal 10 Mei s/d 10 Juni 2011 di tanah perantauan, Riau. Untuk penempatan mahasiswa KP atau TA di perusahaan ini terbagi menjadi 3 daerah, yaitu distrik Rumbai, Minas, dan Duri (kalau untuk Dumai biasanya enggak, lupa sih kenapa, yang jelas sih di sana ‘gerbang’ keluarnya minyak mentah untuk dieksport). Jarak Rumbai dan Minas tidak terlalu jauh, kira-kira 40 menit perjalanan menggunakan mobil. Sedangkan jarak ke Duri lebih jauh, sekitar 3 jam perjalanan (kalau tidak salah). Nah yang ke Dumai itu lebih dahsyat lagi jauhnya, katanya hampir 6 jam bo’ dari Rumbai (CMIIW).

Dari kehidupan di dalam lingkungan pemukiman PT. CPI ini kita bisa belajar banyak, yang paling terlihat perbedaannya dengan kehidupan di luar adalah ketatnya peraturan mengenai ‘KESELAMATAN’, mulai dari cara duduk di kantor, penggunaan safety belt di dalam kendaraan selama berada di dalam lingkungan CPI, disediakannya musteering point (titik evakuasi saat terjadi keadaan darurat, supaya memudahkan penyelamatan), dan yang paling bikin aku berdecak (entah kagum atau heran, sudah tidak bisa dibedakan) adalah kecepatan kendaraan di dalam lingkungan CPI yang tidak boleh melewati batas maksimal: 40 km/jam.

Selama KP di sana, kita diberikan tugas oleh pembimbing kita yang tercinta, untuk membuat simulasi pembukaan valve untuk mengatur aliran fluida menggunakan program RsLogix, sekaligus membuat interfacenya (HMI) menggunakan program RsView (pake RsLink juga ^^). Di dalam ladder tersebut, kita juga diharapkan menggunakan kontrol PID, jadi respon valve bisa benar-benar menyesuaikan ketinggian fluida yang ada di dalam tank (maksudnya valve dapat feedback dari tinggii fluida). Ngomong-ngomong tentang PID, aku baru tahu implementasinya pas KP ini, dulu pas diberi teorinya masih nge-blank gitu (oh maafkan bapak dosen, saya telah mengecewakan dan membuat Anda malu…huhuhu…saya menyesal T.T).

Kesimpulannya, kehidupan di dalam lingkungan PT. CPI itu menyenangkan secara fasilitas, tapi membosankan secara mental. Memang sih fasilitas di sana memadai, mulai dari laundry, membersihkan kamar, makan, layanan TV kabel, kulkas, kamar mandi dalam (ber-bathup yang ada air panasnya), transport di dalam Chevron, itu semua sudah ditanggung perusahaan, tapi ya kehidupan kita cuma di situ, seperti itu-itu saja rutinitasnya setiap hari. Ya kalau kalian masih berjiwa muda, doyan kelayapan, demen hingar bingar, pasti nggak bakalan betah (kayak aku :P ). So kalau masih suka main, jangan berharap jadi pegawai di sana bisa hidup tenang…wakakaka…enggak lah ya, becanda. Semua hal ada sisi positif & negatifnya, perusahaan besar seperti itu memang menyediakan fasilitas dan gaji yang tidak main-main, namun tanggung jawabnya juga nggak sepele. Kata ibu saya sih, di dunia ini nggak ada yang gratis, ada harga yang harus dibayar, termasuk kehidupan bertaraf tinggi seperti itu.

Adios~

postheadericon FINAL PROJECT MIKROKONTROLER: BREATH ALCOHOL TESTER

2 bulan yang lalu dalam mata kuliah Mikrokontroler yang diampu oleh Bp. Agfianto Eko Putra, peserta kuliah ditugaskan untuk membuat suatu alat (Final Project Semester) berbasis mikrokontroler ATMega dengan tingkat pengembangan yang advanced (maksudnya tidak sekedar menghidup-matikan led menggunakan saklar otomatis, harus bernilai jual, dan sepengamatanku diharapkan project yang cenderung aplikatif). Namun karena matakuliah ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan di Program Studi Elektronika dan Instrumentasi (salah satu program studi yang ada di Fakultas MIPA UGM dan termasuk dalam jurusan yang baru di fakultas tersebut, yaitu Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika) maka masih diperbolehkan untuk mengadaptasi final project yang ada di Cornell University.

Setiap kelompok kerja dibatasi max anggota sebanyak 5 orang, dan setiap kelompok wajib mengumpulkan 1 proposal mengenai project yang akan dikerjakannya (termasuk di dalamnya: blok diagram alat, flowchart secara garis besar, dan rencana anggaran penggunaan dana untuk membeli komponen). Kelompokku akhirnya memilih Breath Alcohol Tester atau yang dalam project aslinya bernama Breath O Matic, sebuah final project garapan 2 mahasiswa Cornel University: Alex Averbukh & Dan Golden pada tahun 2004 silam.

Kami memilih project tersebut karena selain komponen-komponennya yang masih mungkin untuk dicari di Indonesia, source code-nya pun tersedia. Hehehe. .aji mumpung juga sih. .tapi toh ternyata pada perjalannya, tidak semua komponen dapat diperoleh (INA121 dan MPX2052D misalnya, karena terlalu mahal dan indent lama) dan tidak seluruh rangkaian dapat diaplikasikan dalam final project kami. Selain itu berhubung kemampuan kami yang masih sangat terbatas dalam komunikasi serial menggunakan mikrokontroler dan bahasa C yang digunakan oleh pembuat aslinya, maka penggunaan 6 pin mini din & keyboard harus kami eliminasi. Oleh karena perubahan tersebut, source code-nya pun harus diubah.

Penggunaan amplifier INA121 yang pada akhirnya tidak dapat diperoleh, baik meminjam/membeli, diganti menggunakan LM358 yang disusun sedemikian rupa menyerupai internal blok diagram INA121 dengan tambahan beberapa resistor.

internal blok diagram LM358

internal blok diagram INA121


Sampai project ini dipresentasikan, kami masih belum mengetahui seberapa efektif penggantian amplifier tersebut (ditinjau dari segi output) dikarenakan belum dilakukannya studi lebih lanjut.

Selain amplifier seri INA121, ada 1 komponen lain yang cukup sulit untuk kami peroleh yaitu sensor tekanan MPX2052D (differensial pressure sensor tipe 2052 keluaran motorola). Untuk penggantinya kami mengusahakan mengganti sensor tersebut menggunakan sensor tekanan lain ber-manufacture sama dan spesifikasi yang tidak jauh beda. Setelah mencari-cari dan bertanya kesana kemari ke semua toko elektronik yang familiar: Delta Elektronik, Digiware. .kami putuskan untuk membeli sensor MPXM2202DT1 di Sentra Sensor yang bertempat di Bogor, seharga Rp 180.000 (exclude ongkir ke Jogja Rp 20.000), dengan pengiriman paket via JNE khusus (kirim jumat malam dari Bogor, sampai di Jogja Sabtu siang. .so fast! i like it).

yang dilingkari merah adalah sensor tekanan. .so small guys! +1,5cm


Sedangkan untuk sensor gas TGS2620 kami mengandalkan bantuan teman (baca: pinjam. .hhe)

yang ditutupi corong kertas adalah sensor gas & sensor tekanan


Tester ini berfungsi untuk mengetahui kadar alkohol dalam napas seseorang yang baru saja meminum alkohol (artinya, tidak akan berguna jika mengetes seseorang yang minum alkohol 1 hari yang lalu) dengan berbagai level dari yang paling rendah/normal sampai yang sudah hilang kesadaran/mabuk berat. Karena di Indonesia minum alkohol merupakan hal yang kurang pantas/tidak sebebas di luar negeri (apalagi sampai mabuk), maka cara testing yang paling mungkin untuk kami lakukan adalah dengan mengoleskan alkohol 70% pada corong kertas yang menutupi sensor gas & tekanan, kemudian meniup ke arah corong tersebut (penentuan level sudah ada dalam source code, atau dengan kata lain sudah ditentukan oleh Alex & Dan). Output alat ini adalah buzzer & LCD, sedangkan indikator menggunakan 8 buah led (6 led untuk level, 1 led untuk good sample, dan 1 led sisanya untuk indikator bad sample).

Cara kerja Breath Alcohol Tester yang kami buat kurang lebih seperti ini:

  • Ada 3 buah tombol: 1 untuk reset dan kedua tombol yang lain dinamakan ‘Blue’ dan ‘Green’ (pada awalnya mau pakai push button with led berkaki 6, tapi karena kurangnya informasi mengenai pemasangannya akhirnya diputuskan menggunakan push button biasa yang berkaki 2)
  • Ketika alat dihubungkan dengan catu daya (baterai 5V) secara otomatis akan ditampilkan menu utama pada LCD, yaitu G untuk melihat high score (seharusnya menu ini masih bisa dikembangkan untuk dihilangkan atau disubstitusi, karena pada kenyataannya menu G ini kurang berfungsi) dan menu B untuk memasukkan data.
  • Jika dipilih menu G maka akan ditampilkan tulisan ‘no high score yet’ (jika bisa memanfaatkan komunikasi serial maka user bisa mengisi nama dan bahkan menyimpan data nama & skornya dalam mikro).
  • Jika dipilih B maka user harus langsung meniup ke arah corong (ke arah sensor gas dan sensor tekanan). User harus meniup selama 5 detik, dan kemudian menunggu selama 6 detik supaya sample bisa stabil. Bila sample yang diambil itu baik, maka led indikator level akan menyala sesuai kadar alkohol. Namun bila sample tidak terambil dengan baik maka led indikator bad sample akan menyala dan sistem akan mengulang penstabilan sample secara otomatis selama 6 detik lagi sampai sample stabil.

Hasil yang kami peroleh sebenarnya kurang maksimal dan memuaskan. Karena ada 1 kondisi dimana led indikator bad sample yang seharusnya menyala namun ternyata malah indikator good sample yang menyala. Hal ini sangat besar kemungkinannya disebabkan oleh sistem yang kurang stabil, pencetakan jalur pcb yang tidak baik, dan pengaruh konvolusi terhadap sensor. However. .tester sudah bekerja cukup baik meski belum bekerja stabil secara 100%

PS: thanks to Alex Averbukh for the answer of this prototype ^^

November 2017
M T W T F S S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Categories